Go to ...
RSS Feed

November 13, 2019

Gua Maria Tritis – Wonosari


Berbagai lokasi wisata di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta akan mudah kita temui. Selain wisata pantai, wisata goa menjadi salah satu favorit wisatawan. Seperti wisata goa religi umat Katolik yang masih bisa dikunjungi oleh umat beragama lainnya.
Itulah Goa ‘Maria Perantara Wahyu’ Tritis atau biasa dikenal Goa Maria Tritis yang terletak di Dusun Bulu, Desa Giring, Kecamatan Paliyan. Wisatawan mudah menemukan goa yang terletak di Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) Gunungkidul, arah menuju ke sejumlah pantai selatan seperti Baron, Krakal hingga Pulang Sawal atau Indrayanti.Untuk masuk ke dalam goa, pengunjung yang melewati jalur biasa bisa berjalan kurang lebih 20 menit atau sekitar 500 meter untuk sampai di mulut goa. Selain itu, bagi peziarah yang ingin melakukan jalan salib harus berjalan memutari bukit karst dengan 14 pemberhentian. Selama perjalanan akan ada diorama kisah sengsara Yesus, tepat pada spasi ke-12 terdapat tiga buah salib di bawah bukit yang melukiskan penyaliban Yesus bersama 2 orang lainnya.Saat berjalan menuju goa akan menikmati keindahan alam khas Gunungsewu yang terdiri dari perbukitan, dan kebun jati yang meranggas saat musim kemarau.
Sampai di mulut goa, akan tampak meja altar yang menghadap ke arah mulut goa. Patung Bunda Maria berada di sisi kanan agak kedalam. Di samping kanannya sebuah kolam air yang biasa digunakan untuk mengambil air para peziarah. Suasana tenang karena memang goa itu jauh dari pemukiman warga.
Menurut sejarahnya, yang bisa dibaca saat kita mengunjungi gua Tritis. Awalnya, Paroki Wonosari dipimpin oleh Rm Arcadius Donyawahjana SJ yang bertugas dari tahun 1963 hingga 1973. Ia bersahabat dengan tokoh Agama Buddha bernama S. Hadisumarta. Keduanya sering datang ke makam Ki Ageng Giring, dan goa (saat itu belum diberi nama Goa Maria Tritis) untuk melakukan meditasi.Menjelang perayaan Natal tahun 1974, pastor Proki R, Al. Hardjaasudarma SJ mendengar cerita seorang anak SD, yang menceritakan tentang keindahan goa, yang tak jauh dari ladang anak tersebut. Setelah bertanya diketehui jika Rm Dibya sering datang bersama sahabatnya Hadisumarta ke sana. Lalu timbulah ide agar umat Katolik berdoa di sana. Singkat cerita, tahun 1977 Goa Maria Tritis resmi dibuka dan diberkati oleh Rm Siegfried Zagnweh SJ yang juga merupakan pastor Paroki Wonosari. Selain itu juga dibuat patung Bunda Maria terbuat dari batu putih.Nama Tritis diberikan karena adanya tetesan air dari atas melalui stalaktit yang ada. Tahun 1992 patung batu putih diganti lebih kecil yang terbuat dari semen. Tahun 2011 oleh romo Paroki Wonosari Rm Sp Bambang Ponco Santosa SJ, patung Bunda Maria diganti berbahan batu hitam dan diberkati oleh Mgr Yoh Pujasumarta yang saat itu menjabat sebagai Uskup Agung Semarang dan diberi nama ‘Maria Perantara Wahyu’.“Di sini paling ramai pada bulan Mei (bulan Maria menurut kalender Umat Katolik),” kata Puji.Tidak Hanya Digunakan Umat Katolik Bidang Kerasulan Kemasyarakatan, Paroki Santo Petrus Wonosari FX Endro Tri Guntoro mengatakan sekitar tahun 2014, Uskup Agung Semarang Mgr Yoh. Pujasumarta SJ menanam ribuan pohon bersama tokoh lintas iman di Gunungkidul.“Waktu itu simbolisnya tanaman kelor, yang ditanam bersama tokoh agama lain yang berasal dari seluruh perwakilan pemuka agama dari Gunungkidul,” katanya. Menurut dia, melalui romo Paroki saat itu, Rm Sp Bambang Ponco Santosa SJ ingin mendesain ulang Goa Maria agar tidak hanya untuk umat Katolik, tetapi umat agama lain bisa memanfaatkan lokasi tersebut untuk kegiatan positif lainnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Menikmati Ketenangan Goa Maria Tritis di Gunungkidul”

Tags: ,

More Stories From 2. Church-Ziarah