Go to ...
RSS Feed

September 26, 2018

Perjalanan Naik Haji 2005 (4) – Mina, Mekah


Jum’at 21 Januari 2005
JUMRAH
Apakah yang dimaksud melontar jamrah?
Yang dimaksud ialah melontar jamrah Ula, Wusta dan ‘Aqabah dengan batu kerikil pada hari nahar dan hari-hari tasyrik.
Mana yang dimaksud dengan jumrah Ula, Wusta dan Aqabah?
Jamrah Ula (pertama) adalah jamrah yang terdekat dari arah Haratullisan
Jamrah Wusta (tengah) adalah jamrah yang kedua (yang terletak di tengah-tengah antara jamrah Ula dan jamrah Aqabah).
Jamrah Aqabah (qubra) adalah jamrah yang terjauh dari arah Haratullisan.
Tempat melempar Jumroh di Ula, Wustho dan Aqobah sekarang sangat lapang dan luas, anda tidak usah takut berdesakan lagi. Ada 2 lantai dan setiap tempat lempar jumroh sudah berbentuk dinding besar.Yang perlu dihindari justru waktu-waktu tertentu saat jemaah yang akan melempar dan sudah melempar saling berdesakan untuk mendapatkan jalan, ini yang lebih berbahaya seperti jalur dilorong Mina. Tenda atau kemah kami terletak didekat tempat lempar jumroh hanya sekitar 300 m saja, jadi tidak perlu melewati lorong itu.
Suasana lempar Jumrah
Untuk mendapatkan batu, bagi yang tidak sempat cari ketika berhenti di Musdalifah jangan khawatir karena banyak sekali batu terdapat sepanjang jalan ke tempat lempar jumroh.Cari batu sebesar kelereng saja, jangan lebih besar dari itu.
Sabtu, 22 Januari 2005
Setelah melempar Jumroh ke tiga pagi hari jam 1.30, rombongan kami segera bersiap meninggalkan Mina. Berangkat dari Mina jam 3:30 naik angkutan kecil, seperti L300, rombongan kami sebagai kloter pertama dengan komando muthawif kami, mas Imam cuma ber 11 orang saja ternyata jalanan lancar sekali tahu-tahu 20 menit kemudian sudah tiba di Mekah. Sisa rombongan berikutnya menunggu bus.
Rombongan kecil kami kemudian bersiap melakukan Thawaf Wada’ (dilakukan setelah selesai pelaksanaan ibadah haji dan waktu akan meninggalkan kota Makkah, baik akan pulang ke Tanah Air atau akan ziarah ke Madinah yang tidak akan kembali lagi ke Makkah) dan rombongan terpecah menjadi 3 bagian, saya dengan Martin Lejo kembali ditengah hujan rintik-rintik melakukan Thawaf dengan sangat khusuk dari lantai 2 Masjidil Haram sambil memandang Ka’bah dengan rasa haru dalam hati yang entah kapan bisa saya lihat kembali karena setelah thawaf Wada ini tidak diperbolehkan lagi kita memasuki Masjidil Haram kecuali kalau malakukan thawaf wada lagi.
Selesai thawaf wada, kami makan bakso dulu walau rasanya nggak karuan, lumayan sebagai pengisi perut. Yang jualan ya orang Indonesia dan kita bisa beli rokok kretek disini, hhhmmm nikmatnya bagi para rocker atau ahli hisap (istilah para perokok) yang sudah kehabisan bahan bakar seperti saya.
Jam 8:00 pagi rombongan kecil kami segera bergerak ke Maktab 106 menunggu kedatangan rombongan besar sekaligus mengurus segala surat yang diperlukan.
Siang jam 13:00 semua rombongan dengan menggunakan 2 bus berangkat kembali ke Jedah. Terjadi hujan dan badai gurun sepanjang jalan menuju Jedah dan ternyata Jedah banjir, aneh ya, masuk Jedah jam 17:00 disambut banjir setinggi 30 sampai 40 cm.
Jam 18:00 kami masuk ke hotel Holiday Inn, saya menempati kamar 434 sendirian !!!, tidak terbayangkan biasanya berempat atau pernah bersebelas eh sekarang malah sendirian saja (sebetulnya dengan Martin, tetapi kami mendapat 2 kamar sehingga masing-masing tidur dikamar sendiri).
Hujan masih turun rintik-rintik malam itu, menurut berita dari jemaah yang datang belakangan ternyata kemah kami di Mina juga banjir sore harinya, air hujan dari pegunungan disamping kemah turun dan membanjiri areal kemah yang tadinya kami tempati demikian juga hujan turun lebat di Mekah sesaat setelah kami meninggalkan Mekah. Allah masih melindungi kami dari segala cobaan ini.
Malamnya beberapa teman masih juga jalan mencari sesuatu di Jedah tanpa memperdulikan banjir, sudah biasa di Jakarta mungkin ya.
Umumnya harga di toko dimanapun sama, walau toko itu ada dihotel berbintang seperti Holiday Inn tetapi harganya sama dengan yang dipasar, malahan kita bisa belanja pakai uang rupiah atau kalau ada US$ nilai tukarnya kadang lebih bagus, hal ini patut dicontoh oleh para pengusaha hotel dan/atau pemilik toko yang berlokasi di hotel di Indonesia.
Minggu, 23 Januari 2005
Pagi hari jam 8:30 saya jalan kaki sekitar Hotel Holiday Inn dengan Martin saat kota Jedah masih belum menggeliat bangun dan ramai, Jalanan sepi sekali dan suasana seperti kota di Amerika saja, tampak bersih dengan jalanan yang sangat luas.Masjid terapung
Siangnya jam 15:00 rombongan kami check out dan meninggalkan hotel terus berwisata menunggu waktu berangkat pesawat, kami pergi ke pantai Laut Merah, disana kami melihat Masjid Terapung (sebetulnya Masjid ini berdiri diatas air laut ditepi garis pantai, saat air laut pasang kelihatannya Masjid ini seperti terapung diatas pantai laut Merah).Jam 17:00 rombongan kami bergerak menuju Bandara King Abdul Aziz untuk kembali ke Indonesia.
Cukup lama proses disini, mengurus koper dan barang bawaan yang umumnya tidak cukup 2 koper lalu air zam-zam buat oleh-oleh, antri pemeriksaan passport sambil menunggu pesawat Garuda (menggunakan penerbangan regular GA 9812) yang akan membawa kami kembali ke Jakarta yang rencananya berangkat jam 23:00 tetapi mundur sampai lebih dari 1 jam, baru jam 00:15 kami bisa terbang.
Seperti saat keberangkatan, karena saat jemaah haji belum saatnya pulang maka kami masih menggunakan terminal penumpang biasa bukan di terminal haji.
Jangan lupa, biasanya kita diberi kenang-kenangan kitab suci Al-Quran di bandara oleh pemerintah Arab Saudi.
Senin, 24 Januari 2005
Akhirnya setelah terbang sekian lama kami mendarat di bandara Sukarno Hatta jam 15:00 dan rombongan kami ternyata merupakan rombongan pertama jemaah haji Indonesia yang kembali ke tanah air tetapi karena bukan kloter resmi maka tidak ada penyambutan dari pejabat pemerintah (resminya baru tanggal 27 januari), yang penting keluarga dan teman-teman sudah ada di Bandara saat itu.
Keluar dari Bandara menggunakan terminal biasa cukup lama juga menunggu barang kami keluar, terutama air zam-zam yang sudah diberi nama masing-masing saat di bandara King Abdul Aziz.
Selesailah sudah ibadah haji saya … Semoga Allah menerima semua doa dan harapan saya menjadi Haji Mabrur. Amin …
Ya Allah, semoga suatu saat Engkau mengijinkan aku kembali berkunjung ke rumahMu yang Indah, penuh keagungan dan penuh Rachmat.

Kesimpulan saya :
Ibadah Haji adalah ibadah fisik sekaligus penyerahan diri pada NYA, siapkan fisik anda sebaik mungkin dan pasrahlah terhadap apa yang mungkin akan terjadi. Jangan pikirkan apa yang terjadi di Tanah air atau keluarga anda yang dirumah.
Kalau anda punya keinginan, mintalah pada NYA, dia Maha Pendengar dan Maha Baik yang akan mengabulkan permintaan anda selama itu tidak melanggar pantangannya, saya membuktikan itu.
Sabar dan maklumi saja apabila anda menemukan kejadian aneh, tingkah laku aneh yang mungkin kalau terjadi di Indonesia bisa menjadi polemik agama tetapi disana itu biasa. Misalkan pindah atau bergeser tempat saat melakukan sembahyang atau menghalangi jalan dengan tangan saat kita melewati orang yang sedang sembahyang atau kejadian aneh lainnya.
Jangan memaksakan diri melakukan ibadah sunah kalau anda tidak kuat. Fokus saja pada ibadah wajib dan Wukuf di Arafah yang memastikan haji tidak nya seseorang.
Hati-hatilah dengan barang bawaan anda, walaupun di Tanah Suci tetapi yang namanya maling ya banyak juga, apalagi kalau kita lengah karena sedang melakukan sesuatu. Saat berpakaian Ihram tentunya sangat kesulitan kalau bawa barang berharga, bawalah tas kecil untuk memuat barang kita, asal jangan menyolok.
Bayarlah segera “dam” kalau anda melanggar pantangan, karena kalau tidak maka bersiaplah anda mengalami sesuatu. Ini bukan menakuti tetapi saya melihat beberapa teman serombongan yang bandel mengalami sesuatu yang menyebabkan mereka harus mengeluarkan uang sebesar “dam” tersebut.
Berangkatlah selagi anda mampu, ada kesehatan dan pasrah … Insya Allah niat anda akan terkabul. Wassalam ……

More Stories From Haji - Umroh