Go to ...
RSS Feed

September 26, 2018

Perjalanan Naik Haji 2005 (3) – Mekah


Mekah – Minggu, 16 Januari 2005
Jam 2.15 sesampai di Hotel Sofittel Mekah kami langsung melakukan Thawaf dan Sa’i, kami melaksanakan Umroh ke 3 kali. Saat kembali ke hotel mulailah perjuangan mencari dimana letak koper dan tas masing-masing, untung semua akhirnya mendapatkan barangnya sehingga tidak ada yang saling salah menyalahkan walaupun tas kecil saya tadinya juga ikut terselip.
Rombongan kami ternyata sehotel dengan rombongan Eko Patrio serta Deddy Mizwar.
Di Hotel Sofittel kami mendapat kamar 827 untuk ber 11 (ya betul tidak salah baca, 11 orang), ramai juga yang biasanya berempat sekarang ditambah pak Ustad, Pak Dokter, Pak Wakit, mas Imam, Pak Syam dan beberapa teman lainnya, betul-betul bisa bikin satu regu sepak bola nih.
Disini kesabaran kita diuji karena ada 1 kamar mandi yang dipakai bersama (kalau nggak sabar bisa pakai kamar mandi dihotel sih) dan bunyi koor “grook grook” kalau kita tidur yang bisa mengalahkan bunyi simponi manapun kemerduan suaranya, bakat terpendam untuk Haji Idol dalam hal tarik suara hehehe ..
Senin, 17 Januari 2005
Hari ini semua jemaah Haji mengaso dan saling ngobrol saja sambil menunggu waktu sembahyang tiba, saya sempat jalan keluar dengan Pak Riyanto serta mbak Lies menemui saudaranya yang juga naik haji. Jalanan sudah penuh orang, untuk jalan saja susah sehingga teman serombongan banyak yang sembahyang di lobby hotel saja dengan mengikuti Imam di Masjid Haram termasuk saya juga atau bisa juga sembahyang dilorong pertokoan disamping hotel.
Masjid Haram sudah susah dikunjungi karena jemaah Haji sudah banyak yang datang ke Mekah, jalanan penuh sesak apalagi bila tiba saat sembahyang tiba sangat luar biasa melihat kepadatan orang yang melakukan sholat melebar ke jalan-jalan sampai juga diatas escalator yang sempit juga dipakai, tidak terbayangkan bahayanya.
Selasa, 18 Januari 2005
Setelah menunggu bus sejenak, jam 14:00 rombongan kami berangkat ke Mina, saat itu jalan dari Mekah ke Mina cukup macet karena jemaah sudah mulai datang dari segala penjuru, menuju ke kemah perlu keahlian supir mencari jalan terobosan akhirnya kami sampai juga ke kemah dan setelah meletakan barang ditenda/kemah dilingkungan 103 kemudian beristirahat sejenak, setelah Magrib rombongan mulai bergerak ke Padang Arafah dan malam ini juga kami akan tidur ditenda di Padang Arafah.
Kalau bicara Tenda entah mengapa saya selalu ditempatkan tidur dipinggir sebelah kanan pintu tenda, disebelah saya pasti Pak Ustad Abubakar (alm) dan Pak Oke sebelah kiri pintu tenda, mungkin kami termasuk kelompok “Juru kunci” atau sejenis itu ya. Pak Oke semula jarang sekali bicara dan terkesan pendiam, tetapi akhirnya kami bisa cukup akrab dan hubungan kami berlanjut terus saat kami sudah kembali ke Jakarta.
Rabu, 19 Januari 2005
WUKUF
Waktu wukuf mulai dari tergelincir matahari tanggal 9 Zulhijjah sampai dengan terbit fajar tanggal 10 Zulhijjah. Wukuf dinilai sah walaupun dilaksanakan hanya sesaat selama dalam rentang waktu tersebut, tetapi diutamakan mendapatkan sebagian waktu siang dan waktu malam.
Tanggal 8 Zulhijah jamaah haji berpakaian ihram (niat) haji bagi yang berhaji tamattu’ dipemondokkan masing-masing, sedangkan bagi yang berhaji ifrad dan qiran tidak niat haji lagi karena masih dalam keadaan ihram sejak dari miqat saat tiba, setelah itu berangkat ke Arafah.
Pada tanggal 9 Zulhijah bagi jamaah haji yang telah berada dalam kemah masing – masing menanti saat wukuf (ba’da zawal) sambil berdzikir dan ber do’a.Saat yang kami nantikan akhirnya tiba, hari ini adalah hari penantian selama kami melakukan ibadah haji. ARAFAH adalah HAJI. Sedari pagi kami semua sudah bersiap-siap menunggu waktu dan setelah sembahyang Zhuhur kami berjikir dipimpin Pak Ustad Abu Bakar sampai sekitar jam 16:30 … Kami telah menjadi Haji.
Alhamdulillah dan tanpa terasa air mata mengalir turun seakan tiada henti. Allah mengabulkan doa kami dari tempat kami berangkat yaitu menunaikan ibadah haji tanpa gangguan apapun.Saat menjelang Magrib ketika kami semua berdiri didepan tenda sambil berdoa, terlihatlah suatu pemandangan yang sangat menakjubkan, seakan matahari yang memancarkan sinarnya disela awan sebagai lampu sorot raksasa dari langit Maha Besar Allah.
Disini terlihat kekuasaanNya yang Maha Besar, tidak ada bedanya antara yang kaya atau miskin, berkuasa atau rakyat biasa semuanya sama, sama mengharapkan ridha Nya dan ampunan Nya.
Allah YME membanggakan para jemaah dihadapan para Malaikatnya dengan mengatakan “Lihatlah Umatku menghadapku dengan pakaian yang lusuh dan wajah lelah semua mengharap RidhaKu”, memang betul demikian adanya.
Malam harinya sekitar jam 20:30 rombongan kami bergerak kembali ke Mekah untuk Thawaf Ifadah (Thawaf dalam rangkaian ibadah haji setelah wukuf di Arafah) dan melakukan Sa’i kembali, ternyata rombongan masuk Mekah saat sudah menjelang Subuh.
Jalanan sangat macet disertai klakson banyak mobil yang saling tidak mau mengalah serta debu yang berterbangan dimana-mana, maklum semua jemaah bergerak ke Mekah, kami sempat mabit di Muzdalifah berhenti sejenak beristirahat untuk mengambil batu yang akan digunakan melempar.
Aneh ya begitu banyak jemaah tetapi ya jumlah batunya tidak pernah habis.Hati-hati untuk yang turun dari bus, karena bisa tersesat kalau pergi terlalu jauh dari bus dan bisa tertinggal bus, maklum buanyaak sekali bus saat itu, suasana melebihi stasiun bus Pulogadung saat lebaran mau tiba.
Saya, Pak Dokter Nasution, Pak Oka serta beberapa teman lain biasanya masuk kelompok atau partai “pendiri”, maksudnya ialah selalu berdiri di bus karena kami hanya menggunakan 1 bus sehingga harus ada yang rela berdiri memberikan tempat buat yang lebih tua, pasangan suami istri atau ya yang mau enak sendiri hehehe.
Kamis, 20 Januari 2005
Setelah sembahyang Subuh di Masjid al Haram, mulailah kami melakukan Thawaf Ifadah dan Alhamdulillah saya bisa sembahyang Iedul Adha di Masjidil Haram ditengah saat melakukan Thawaf Ifadah. Akhirnya setelah melakukan Sa’i terkabulah keinginan saya untuk cukur gundul di sini. Cukup dengan SR 10, sambil bercukur berdiri karena banyak yang antri, rambut sudah hilang dan waktunya juga tidak sampai 2 menit.
Jam 14:00 kemudian rombongan kami dengan menggunakan bus yang sama bergerak kembali kearah Mina untuk bermalam di Mina dan melakukan jumroh, jalanan relative lancar tidak seperti saat berangkat dari Mekah ke Mina sebelumnya.

More Stories From Haji - Umroh